Sabtu, 13 Juni 2015

hallo selamat malam!
seindah apapun rumah keluarga, rumah sendiri lebih enak.
seeenak apapun lapak sebelah, lapak ini juga yang berasa rumah sendiri.
oke. agak nggak nyambung ya? hahahha
lumayan lelah berada di lapak sebelah.
mungkin hati ini belum cukup kuat untuk ada di lapak sehebat lapak sebelah. setelah sekian lama melupakan lahan garapan di tanah orange karena berkecimpung di tanah biru, tapi kini aku kembali.

tapi ini serius.
entah kenapa lapak sebelah ahir-ahir ini berasa kurang  nyaman.
gak tau lah kenapa.

oke.
tau kok kenapa. cukup tau malah. makanya lelah.
lapak sebelah melatih hati ini tinggi. memaksa tangan menari irama yang, rasa-rasanya bukan irama khas milik diri sendiri.
otak memaksakan jari untuk menari di irama khas orang kebanyakan.
awalnya sih menikmati karena tertantang. tapi.. lama-lama ya gini. capek sendiri.

terlepas dari curhat colongan barusan, malam ini saya tersentil sama sebuah fakta yang, hah, bukan tersentil, tapi merasa terinjak-injak. merasa malu. merasa benar tidak ada apa-apanya.

adik: kak, tau itu mesjid apa?  *nunjuk kover salah satu buku yang bergambar sebuah mesjid dengan kubah emas yang sudah tidak asing lagi bagi saya.
kakak: masjid al aqsa
adik: bukan
kakak:`*pasang muka bingung* serius?
adik: iya. itu dome of rock. buka masjid al aqsa.
kakak: *bengong. mikir. bingung. semua berkecamuk
adik: itu taktiknya.

ternyata, yang selama ini saya kira masjid al aqsa bukanlah masjid al aqsa yang sebenarnya. jadi saya termasuk dalam orang-orang yang terjebak oleh media.

saya enggak langsung percaya. saya masih nembak si pemberi berita dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan dia memberi bukti kuat kalau selama ini saya dan banyak orang telah salah. dia memang tidak bisa memberikan hadis landasan. namun dari hasil search yang kami lakukan, saya merasa apa yang dikatakan si pemberi berita itu benar. dan, tanpa kita sadari, dengan diputarbalikkan nya pengetahuan kita yang awam ini yang merasa masih mellihat masjid al aqsa berdiri tegak, membuat kita merasa amanm sehingga dibalik itu mereka malah dengan mudah menghancurkan yang asli. untuk bahasa lebih enaknya bisa di baca disini .

disaat saudara-saudara kita disana mempertaruhkan darahnya demi membela peniggalan suci agama kita, kita malah sibuk dengan hal-hal duniawi yang tidak akan kita bawa mati.
disaaat mereka diusia remaja sudah bisa memegang senjata untuk membela agamanya, kita disini hanya bisa pegang gadget untuk update status tentang lelahnya hidup kita. itu yang kita bilang lelah? lantas kalau kita saja sudah lelah, mereka yang ditinggal anggota keluarga nya yang mati syahid itu apa?

lelah siapa, kita atau mereka?

kita.

kita yang lelah.

mereka tidak lelah.

mereka tidak lelah dengan cobaan yang ada.

justru cobaan lah yang lelah mendatangi mereka. karena setiap cobaan itu datang, mereka menghadapinya dengan hati yang iklas. karena mereka tau, mereka adalah penduduk syurga. mereka hanya sementara di dunia. target mereka adalah syurga. dan jihad lah tiket mereka menujunya.

saya masih miris menyaksikan diri saya sendiri yang masih menganggap ringan perjuangan unutk mendapatkan tiket kembali. saya masih mengganggap sepele akann dosa-dosa kecil yang saya lakukan baik sengaja ataupun tidak. menganggap apa yang saya lakukan akan dimaafkan oleh sang maha pemaaf.

maaf memang diberikan, namun bukan untuk orang-orang yang tidak meminta ampunan.

ya Rabb.. jagalah diri-diri kami, hambamu yang lemah dan seringkali takabur. hambamu yang lebah dan sering kali sombong. hambamu yang lemah yang sering kali hilaf. jagalah kami ya Yang Maha Menjaga..




Rumah. 22:43 WIB

Senin, 06 April 2015

Selamat malam. Masih pukul 10 malamhari, tapi badan meriang yang sebenarnya minta di kasih istirahat. Tapi, sayangnya kewajibam menuntut untuk dilaksanakan. Yap, belajar untuk ujian. 
Menggandrungi penulis membuat saya ingin mendalami dunia tulis. Menggandrungi aktvis membuat saya lebih kritis. Sayanya saya belum bisa menggabungkan keduanya dan menghasilkan tulisan yang kritis *apasih*
Sedikit menghilangkan kehendak badan untuk istirahat dengan sedikit cuap di media yang sudah lama tak disentuh ini. Hahaha. Semula agak bingung untuk bercerita dimedia mana, dan pilihan jatuh pasa media ini, dengan harap nggak banyak dibaca orang. Ya begitulah.
Sejujurnya saya ingin membuat sebuah tulisan yang mengispirasi. Nggak melulu hanya sekedar cerita diri. Tapi, ya.. segala macam kurang yang ada, niatnya mengispirasi, ujung-ujungnya tetap berujung curhat colongan. -.-a
Malam ini, sudah duapuluh menit lewat dari pukul 10 tepat. Tenggat waktu bercerita sudah mulai mendekat. Semoga suatu saat tulisan-tulisan ini dapat menjadi manfaat seperti tulisan-tulisan para inspirator di media tetangga. Hehe.
#sumangaik!
*aslinya mau di post di blog. Apadaya gak mau login di hp gegara email blog masih y! -_-*

Jumat, 06 Maret 2015

"dua jam untuk selamanya" - Jalan sore keliling Unand bareng Kurniawan Gunadi.

terinspirasi dari sang inspirator yang posting caption instagram "5 hari untuk selamanya" makanya posting kali ini dinamai "Dua hari untuk selamanya". Bukan atas dasar maksud lain yang terselubung. Tapi kalau ternyata dua jam ini emang terkait dengan sesuatu, ya, who knows lah ya.. hahaha. Oke, kembali ke hari ini, atau lebih tepatnya kemaren. -.-a (baru inget ini udah dinihari).

Kaya caption post instagram beberapa jam yang lalu, yang juga terinspirasi dari  Ahmad Rifai Rif'an yang bilang "Karena tuhanku maha besar, maka doaku juga besar". Saya suka mengkaitkan ini dengan skenario hidup - karena saya suka berandai-andai. Setidaknya dulu begitu. Saya terkadang menghayalkan sesatu dengan sedikit harap akan diwujudkan oleh sang maha takdir. Tapi semenjak baca "Karena tuhanku maha besar, maka doaku juga besar"maka, saya perlahan menghilangkan kebiasaan 'mengkhayal takdir sendiri' ini. Kenapa?. Sederhana. Karena pasti skenario buatan sang maha skenario lebih maha lagi. Dan skenarionya sang pemilik jiwa dan raga ini nggak pantes buat di sandingkan sama skenario hasil pemikiran si manusia yang pemikirannya terbatas ini.

Sekian mukadimahnya. hahaha. Sok penting gitu saya ya, pake-pake mukadimah. Tapi, mukadimah ini berkaitan lagi dengan 'something wow' hari ini.

Pernah suka tulisan? ya!
pernah suka membaca tulisan seseorang di media sosial? sering banget!
pernah sebegitu senangnya pas tulisan-tulisan itu dibukukan? pernah!
pernah ngimpi buat ketemu sipenulis dan jalan-jalan santai keliling kampus sore-sore? .... *diem aja*

Ini lah yang terjadi sore, kemaren.

Nggak terpikir sebelumnya kenapa sore kemaren itu post seorang oknum R di salah satu grup bisa masuk, padahal sinyal di kafe fakultas itu bener-bener sesuatu. Dan nggak kepikir juga kenapa bisa sore itu tergerak tangan ini buat buka notifikasi di hp. Pokoknya dari hal-hal tak terpikir kenapa bisa terjadi itu, saya dan 4 orang teman saya bertemu dengan seorang penulis yang sudah lama kami favoritkan tulisan-tulisannya. Emang sih, si empunya buku hujan matahari ini bakal mengisi salah satu acara latihan kepenulisan besok hari (hari ini), kami-kami sih udah berniat untuk hadir di talkshow itu, sayangnya ada acara lain yang bener-bener bikin kami, terutama saya sendiri berfikir keras. Dihadapkan dengan 2 pilihan kesempatan yang sama-sama sekali seumur hidup siapa yang nggak bingung coba? Ahinya saya memilih untuk mengutamakan acara teman saya. Dan tenyata pilihan saya nggak salah. Memilih untuk melepaskan satu dari dua, namun ternyata sang maha takdir malah memberikan keduanya untuk saya. Maka nikmat tuhan mana yang kamu dustakan? Bahkan, yang awalnya cuma niat buat foto aja, malah bersambung dengan ikut jalan-jalan bareng keliling kampus. FYI, selama mahasiswa masih banyak sudut kampus yang belum saya jajaki, dan hari ini, saya berhasil tour keliling beberapa bagian kampus (karena emang gak bisa dikelilingin full kalo jalan kaki) sampai di titik tertinggi (katanya) dan menikmati sunset bareng dengan orang-orang hebat! rasanya sesuatu banget banget banget. Angin sepoi sepoi diatas gedung jurusan teknik sore kemaren kerasa beda. hehe. Kalo katanya mas gun itu, "Nggak penting viewnya itu dimana, yang penting itu dengan siapa". hahahah. Nggak kebayang sebelumnya kaki ini kuat buat jalan dari mesjid kampus sampe ke bukit nya jurusan teknik nun jaun disana bareng-bareng 'orang-orang wow' ini.

Poin yang saya catat dengan sangat adalah betapa seorang hebat ini punya sifat humble yang luar biasa. Ikut ketawa-ketawa, ngobrol ngarungidul entah kemana, negajawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin besok juga bakal ada ditanyain sama peserta talkshownya, dan malah pake di bully berjamaah sama tuan rumah. Bener-bener quality time yang, nggak sebanding dengan harga tiket buat ikut talkshownya besok.

Alhamdulillah for today :)


*picture nya nyusul ya, hehe










Kamis, 05 Maret 2015

Pukul satu dini hari.

Yap. selamat dini hari.
setelah sekian lama merindukan log-in ke blog ini, berusaha mati-matian mengingat apa email dan password, ahirnya... post ini bisa dibuat. ya ahirnyaaaaaaa~

You know what, I am a bachelor now. woho!
selesai sudah masa-masa kuliah S1. Selesai sudah perjuangan skirpsi. selesaaai!
Tapi, jadi sarjana ternyata nggak memuaskan hati gue. Nah lo, di postingan terahir gue ber-aku-aku, dan sekarang kembali ber-gue-gue. Gue merasa cukup labil jadinya. Tapi, ini nampaknya jadi perkara cukup serius. Which one should I use? *pensive*. Okelah, gimana kalau ber-gue-gue aja? gue lebih nyaman dengan penyebutan diri sebagai 'gue' kayanya. Terserah mau dibilang anak gaul, terlalu gaul, atau kekinian. Sekarang sedang ingin menikmati diri sesuai apa yang diinginkan tanpa intervensi dari luar *cie

Kembali ke ketidakpuasan sebagai sarjana.

Nggak salah sebuah postingan salah satu senior yang dulu gue baca. titelnya: penyesalan seorang sarjana. Sekarang itu gue alami. Nyesel perihal nilai, nyesel perihal kegiatan, nyesel perihal pemahaman dalam belajar, nyesel perihal kemauan, nyesel perihal pilihan dan nyesel perihal keberanian. Tapi, ya.. hidup bukan untuk disesali.

"Jangan tanya kenapa sesuatu hal terjadi, karena sebenarnya sesuatu yang terjadi itu adalah wujudan permintaan kita dimasa lalu. Ambil saja pelajaranya"
Setidaknya begitu kata mbak Hanum Salsabiela Rais.

Sedikit pembocoran, gue paling malas pake name tag waktu kuliah. Bukan perihal penyakit pelupa kronis yang ada, tapi perihal keminderan diri untuk melihat beberapa huruf tambahan dibelakang nama. Perihal rasa ketidakmampuan untuk memegang kendali atas kehidupan orang banyak. Itu saja.






Selasa, 04 November 2014

Hai, bloggy. Sudah lama kita tak bersua. Lebih tepatnya sudah lama aku tak menyapa. Maaf. Ya, mungkin kesibukan sudah menjadi alasan basi. Bukannya sudah ada berbagai aplikasi di piranti pintar yang bisa memudahkan sebuah sapaan?

Hai, aku ingin sedikit bercerita untuk membayar utang-utangku karena cukuplama tidak bercengkrama denganmu. lagi, maafkan aku atak ketidakpedualianku untuk beberapa waktu lalu. Taukah, aku sedang dalam kebimbangan. Begitu banyak dunia yang ternyata setelah aku dalami dalam sudut pandang lebih jauh - karena proses ini, justru malah tidak terlalu baik untuk digeluti. Entah aku yang terlalu menelan bulat-bulat, atau memang itulah adanya, tapi hampir semua dunia yang aku cintai justru salah. Disatu sisi ada  yang menyatakan boleh aku tetap berada dalam kotak itu dengan beberapa syarat yang harus aku sanggupi, mengikuti apa yang disebut orang-orang dengan ilmu ketentuan kontemporer. Di sisilain menyatakan aku harus meninggalkannya secara utuh karena tidak ada perihal ketentuan yang bersifat kontemporer, menyesuaikan zaman.

Lantas, bagaimana? Masih haruskan mencari pembenaran akan ingin yang masih berada di dunia itu, atau jor-joran menutup pintu dan berbalik arah?

Entahlah, sampai detik ini aku belum menemukan pencerahan. Eh,  tunggu. Perihal in benar-benar baru terlintas difikiran. Kenapa  tidak bertanya langsung pada yang maha memiliki ilmu? Astaga… aku sibuk sendiri berargumen dengan diriku yang tetap berujung tidak mendapatkan jawaban, sementara ada Maha zat yang maha mengetahui. Maafkan aku ya yang maha memiliki hidup.


Taukah kau hal yang paling sulit untuk dilakukan? Ya.. meninggalkan sesuatu yang amat kau cintai. Apalagi kalau itu kau lakukan berkali-kali.







Sabtu, 24 Mei 2014

Ember Bocor

Ember Bocor.
Segimanapun kita berusaha mengisi, tetap saja, ember bocor tidak akan penuh.

Oke, selamat subuh. Subuh hari selalu membuat kepala saya jernih untuk berfikir dan belajar. Tapi, sayangnya saya tidak selalu juga bisa memaksimalkan subuh saya. Poor me.

Sedikit mengamati, perkara ember bocor. Sebenarnya ada 2 pokok pertanyaan yang ingin saya lemparkan ke dunia maya ini. Pertama, ya perkara ini. Dan satu perkara lain yang inshaa allah menyusul di post selanjutnya (kalo mood nulis).

Hasil dari saya menimba ilmu melalui salah satu seminar kemarein, pematerinya seornag wanita yang wow sekali lah ya menurut saya. Dia yang menyebutkan hal ini. “jangan jadi ember bocor”. Waktu itu, perkaranya masalah hijab.  Ada orang yang ibadah nya bagus, ahlaknya pun bagus, tapi dia tidak menjalankan salah satu kewajibannya, yaitu menutup aurat. Nah itu gimana dong? Ya itu tadi, sama seperti ember bocor. Berlaku juga untuk sebaliknya. Yang sudah memantapkan hijab, menutup aurat, tapi akhlaknya belum baik.

Nah, mengenai ‘ahlak yang belum baik’ ini. Sudah sewajarnya juga sih ya, seorang menilai seorang yang lainnya. Namanya juga manusia. Tapi, janganlah sebuah penilaian buruk menutupi 99 penilaian baik yang sebelumnya sudah kita sematkan pada seseorang. Membaca juga di post salah satu teman saya, perkara menasehati. Saya menangkap sebuah point bahwa banyak orang yang malas dinasehati sementara yang menasehatinya itu orang yang menurutnya melakukan banyak kesalhan lain. Normal. Itu normal-normal aja.

nah loh, kok jadi jauh dari perihal si ember bocor ya? ops.. ada kok.. Kita nih, sejauh ini, sudah menganggap dirikita baik, ahlak baik, sopan santun, ibadah juga baik, nah... syetan putar akal, dia cari celah, dan dapatlah sebuah celah untuk membocorkan ember pahala kita. Muncullah sebuah bisikan di telinga kita yang ahirnya membuat kita berfikir  "Ih, apaan sih nasehatin aku, kamu aja masih blablablabla..."

Manusia memang dikodratkan untuk punya egoism tersendiri. Sayapun juga begitu. Tapi.. lama-lama saya berfikir, kok rasanya jahat sekali saya menjudge saudara saya buruk hanya dari satu perkala salah yang dia lakukan? Sementara dia sebelumnya punya ratusan perkara baik. Salah dia menasihati saya? Bukannya dia menasihati justru untuk kebaikan?

 “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”.

Saya sering mendengar ini, tapi saya lupa juga ini sumber nya dari mana, yang jelas kita diwajibkan untuk berdakwah. Nah, bukannya menasehati itu termasuk berdakwah? Perlukah seseorang baik 100% dulu baru bisa berdakwah? Kalau gitu patokannya mah, nggak bakal ada yang dakwah. Namanya manusia, nggak mungkin 100% baik.

Perluaslah hati. Mungkin itu sewujud godaan syetan dalam kita yang berusaha menjadi lebih baik. Menggoda kita dengan bisiknya. Mengganggu polapikir kita. Menyempitkan hati kita. Menutupi mata kita. Ayo.. istighfar. Jangan mengkotak-kotakkan orang dengan ‘ini yang baik,harus didengar segala nasihat nya’ ‘ini buruk. Nggak boleh didengar nasihatnya’. Hayo.. kita ini siapa? Kita dan dia ya sama aja. Sama-sama manusia. Hak apa kita mengkotak-kotakkan? 




Saya juga sedang berusaha berlapang hati untuk bisa menerima nasihat dari mana saja. Jadi lebih baik yuk.. ^^





Rabu, 14 Mei 2014

red, yellow, and titanium.

"Titanium, sebuah unsur kimia yang sangat kuat. Titanium itu sama kuatnya dengan baja namun ia 60 % lebih ringan, ia juga tahan suhu tinggi dan tahan korosi"

Ya. awalnya mungkin malam ini bisa gue sebut sebagai blue night. Tapi, mau sampai kapan perhial ini menjadikan gue 'blue'? Walau gue suka birunya langit, tapi gue nggak suka kalau hati gue dalam kondisi blue. Walau kuning punya cerita pahit untuk gue, tapi gue akan tetap memegang teguh hangat sang kuning, mencampurkannya dengan keberanian dari sang merah, menghasilkan sebuah jingga. Jingga yang hangat, riang, namun kuat. Nggak beda jauh sama titanium. Walau warna mereka berbeda jauh, tentunya, tapi dua hal ini mungkin akan sering keluar dari fikiran gue dan tertuang dalam tulisan-tulisan gue kedepannya. Dua hal yang menurut gue identik dengan sebuah kekuatan.

Kejutan dari sang waktu. Gue yang memilih berjalan di jalur ini, dan sang waktu memberikan gue beberapa view yang pastinya hanya bisa gue sendiri resapi, dan ambil makna yang tersemat dibaliknya. Kadang gue ngerasa mirip sebuah peran dalam novel-novel. Apa orang lain juga penah ngerasa hidupnya bagaikan novel? Kalau iya, berarti kisah gue bukan apa-apa. Tapi, "bukan apa-apa" bukan berarti tidak bisa menghasilkan sebuah masterpiece kan? Menjadikan ini semua sebagai sebuah karya adalah target gue selanjutnya. Terlepas dari mengingatnya sebenarnya cukup menyakitkan untuk gue. But, it's okay. Iam bulletproof. I won't fall. I am Titanium. Yeah, Titanium.

You shout it loud, but I can’t hear a word you say
I’m talking loud, not saying much
I’m criticized, but all your bullets ricochet
you shoot me down, but I get up
I’m bulletproof, nothing to lose
fire away, fire away
ricochet, you take your aim
fire away, fire away
you shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
you shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
Cut me down, but it’s you who have further to fall
Ghost to-own and haunted love
Raise your voice, sticks and stones may break my bones
I’m talking loud, not saying much

I’m bulletproof, nothing to lose
fire away, fire away
ricochet, you take your aim
fire away, fire away
you shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
you shoot me down, but I won’t fall
I am titanium

I am titanium
I am titanium
Stone hard, machine gun
Fired at the ones who run
Stone hard, though as bulletproof glass

You shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
You shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
You shoot me down, but I won’t fall
I am titanium
You shoot me down, but I won’t fall
I am titanium

I am titanium

I am titanium

Selasa, 06 Mei 2014

Alphabetic cream. AA, BB, CC, DD, and new one, MM cream.

Hellow!

Setelah beberapa waktu gue datang membawa cerita gue sebagai pejuang skripsi, sekarang agak bergeser dikit, gue kembali ke dunia seorang mahasiswa biasa. Jadi gue mau berbagi sedikit ilmu baru yang gue dapet. Entah lah ya, tapi menurut gue ini masih tergolong baru.

Ada yang pernah denger BB cream kan? Ternyata BB cream punya dua saudara lagi. Here: CC cream and DD cream. Ha-Ha-Ha. Jangan lupa anak pertama dari keluarga alphabetic cream: AA cream (Anti Aging Cream)





Secara singkat ke 3 alphabetic cream ini (BB,CC, dan DD) gunanya sama-sama buat make you look better. BB krim buat yang problematika muka nya biasa aja. Standar lah.. Kalau yang ngerasa mukanya merah-merah atau warnanya nggak rata monggo pake CC cream (colour correction). Kalau yang udah mulai kreiput-keriput bisa pake DD cream yang kayanya lebih fokus ke anti wrinkle walau di CC juga ada kandungan antri wrinkle nya. Ketiga krim ini sih sama-sama ada moisturaizer, SPF, sama foundation juga. 






Nah, kalau yang masalah mukanya udah komplikasi mungkin bisa coba: MM cream. Yang ini jenis krim yang bisa mengatasi masalah komplikasi muka. Jerawat? Keriput? Warna kulit nggak rata? Gampang.. use this MM cream, dijamin seluruh kekurangan muka lo pada ketutup kok. 

 Masking Monkey







Diambil disini

Selasa, 29 April 2014



Telah wafat hapdhone pink unyu berserta kenanga-kenangan yang ada didalamnya. 
Hanphone pertama yang full gue belu dengan uang gue sendiri, yang selama 3 tahun menemani gue dalam suka, ci(n)ta, , dan duka.

Terimakasih untuk segalanya. 

Dengan terbelah duanya antara layar dan keypad, maka terbelah dua pula hati yang dulu masih tersimpan didalamnya.

I am done with this pink flip. I am done with my pink. I am giving up.
 I don't need new one. I just wanna stay with all that I have now. Bubye..






Rabu, 16 April 2014

Nyes-ek.

Kalau elo lagi jadi seorang #scriptionFighter atau #pejuangskripsi yang masih dalam fase #pejuangProposal. Ini adalah hal ternyesek yang bakal elo alami. Nyeseeeekkkk..




Selasa, 15 April 2014

mood flip like you flip back your hand.

HOOOOOOAAAAAAAAAAAHHHHHH!!!!!!

kembali gue hadir ke lapak curahan hati ini. dear blooogggg... you knooowww... last night I god neeeewww spiriiittt injeeccttiioonnnnnn. Bermodalkan itu dan tentunya banyak suntikan semngat dengan merek lain jugaaaaa gue berangkat dengan senyuman indah pagi ini ke RS. Kembali dan kembali mengantar surat pengambilan data awal yang nggak sampe-sampe ke yang bersangkutan.

Pagi ini, berbarengan bel tanda masuk sekolah anak-anak SD bunyi, gue bernagkat dengan senyuman terkembang dan semangat membara. Mendarat di tempat tujuan dengan selamat. Nunggu barang 5 menit doang surat gue udah sampai ke tangan yang bersangkutan. Guenya sih seneng. Tapi.. Like math exam, semakin gampang lo rasa ngejawab soal, semakin besar chance lo buat salah. Jadi begitu surat gue masuk ke ruangan yang dituju, perasaan gue nggak enak. Dan.. emang, nggak lama kemudian si ibuk yang punya wewenamg keluar ruangan, manggil nama gue. Singkat cerita yang jelas surat gue salah lagi. Oke, Fine. Tuhan.. cobaan lagi untuk hamba?

Intinya surat gue salah alamat. Maksudnya, judul yang tertera nggak sesuai sama bidang tempat surat gue tertuju. Walau gue udah memberikan banyak alasan, tapi, gue tau sebenernya yang ibu itu mau cuma: gue pergi dari sana dan urus surat baru. Gue finally keluar lagi dari ruangan itu dengan menghela nafas yang lumayaaann panjang.

Kayanya gue butuh secepatnya ketemu sama dokter yang direkomendasiin oom gue, buat diskusi, cari ilham.

Next post gue ke ruangan dokternya. Di bangsal obgyn. Pertama gue datang, kata ibu-ibu di sekretariat dokternya lagi ada acara. Jam 9 baru dateng. Oke, gue tunggu lagi di depan. Liat beberapa dokter koas berseliweran  gue jadi inget hasil ngobrol (dan curhat gulana) gue sama salah satu uda gue (uda gue? ya.. anggap aja gitu. this person realy a brother. not "brother", okay. TRUST ME! -_-) tetang adek dia yang lagi KOAS di obgyn, gue baru berencana mau ngewhatsapp si uda, mau nanyain si kakak adek dia itu, tetiba seorang cewek dengan perawakan riang gembira nyamperin dua dokter koas yang lagi berdiri-berdiri. "Rasanya ini muka kakak yang disuruh uda gue temuin deh", ceritanya gue ngomong dalem hati. Gue mau cek kecocokan muka dengan fotonya di FB, eh gue baru inget aplikasi FB udah gue delet. Ahirnya gue stalking di jejarsos satu lagi. Stalking gitu aja nggak bikin gue 100% yakin itu kaka yang gue tuju. Ahirnya gue nanya sama mbak-mbak disebelah gue yang tadi sempet disapa sama kakak itu. Kenapa nggak nanya aja gue dari tadi ya? bego. Dan benar, dia orang yang gue cari.

Singkat cerita (lagi), gue ngobrol banyak sama dia. Orangnya asik dan menurut gue dia orangnya intelek. Gue suka sama cara dia menjelaskan jawaban dari pertanyaan gue seputar judul gue, yang.. ya.. diapun nggak paham-paham amat. 1 hal yang gue salut adalah dia baru aja pulang dari exchange ke barcelona. OMG! BARCELONA MAMEEENNNNNN!!!! Gue tau sibuk-sibuknya kuliah anak kesehatan, dan gue dulunya mikir anak kesehatan mah nggak bakal sempet ikut begituan. Tapi dia punya pandangan lain.

"Selagi bisa dan dapet kesempatan, why not? ya.. meski resikonya gue musti rela ketinggalan dari temen-temennya yang disini, tapi, dia dapat pengalaman berbeda yang nggak semua orang bisa rasain. Thats the point. "



Jumat, 11 April 2014

beauty is.. ME!

good morning weekend! hahahaa, finally weekend again ya..

Setelah semalaman off activities, I'm not fit anymore and sleep was good medicine that I have, this morning I felt better although with little headache. Mungkin efek kebanyakan tidur *ups*

Pagi ini rencana gue mau ngerjain kerjaan yang tertunda, tapi lagi-lagi tertunda karna gue nemuin sebuah hal yang lebih merefresh fikiran gue. hahahaha. hola~ its  YOUTUBE.

Gue nggak suka mengerjakan hal yang nggek berguna, so, di youtube pun gue nggak sekedar nonton vidio klip atau semacamnya yang menurut gue emang nggak guna. Oke, sesekali guna juga sih. *garuk-kepala*

Tadi gue nemu short film, 3D animation, not have a good message, just how morning activies 'a lazy person', but.. animasi nya itu loh, 5 bintang! Sehabis nonton itu gue semakin dan semakin pengen sekolah anime 3D (yang pasti again nggak bakal dapet izin). Surfing punya surfing, gue jadi nontonin film-film pendek. Gue skip semua judul yang berbau "Love story". 

"Aku selalu beranggapan bahwa cinta adalah kerugian yang berbahaya" -SH

Bukan tanpa alasan gue sepakati salah satu dialog di sherlock seris BBC itu, tapi karena beberapa pengalaman juga sih. I'm so.. so.. so..  tottaly lose out many time to be creative dan produktif cuma gara-gara stuck talking di skype. OMG. Tapi, ya.. nanti ada saat nya gue akan mengambil resiko untuk rugi secara full. Tapi  nggak sekarang.

Healah, jadi ngomongin hal yang nggak penting deh. Biasa lah, kodrat wanita. *alibi*

oke, niat awal gue buka lembaran new post ini sih buat share sebuah vidio yang gue sejauh ini suka. Banyak sih yang gue suka, dan rata-rata yang gue tonton bagus semua. Tapi, pesan dari short film yang ini mungkin lebih bisa ngena. Mungkin..


Gue menitik beratkannya dengan "merubah kodrat lo secara fisik" bukan "merubah kadar lemak dalam tubuh elo". Diet is not what I said "merubah kodrat fisik", menurut gue, diet itu lebih ke menjaga kesehatan. Mau lo kena penyempitan pembuluh darah cuma gara-gara kebanyakan lemak? Nggak kan ya..

So, ya.. Image cantik seakarang itu ditampilkan di TV pasti lah seputar putih, tinggi, langsing, kaki jenjang, rambut panjang, bibir merah, dan lainnya. So maindsteram. So bull****. Asal lo udah terlahir jadi wanita, status cantik itu udah tersemat di diri elo. Tinggal di eksplor supaya status cantik elo terpancar atau terlihat sama orang lain. Bukan maksud juga buat umbar kecantikan sih, dosa, tapi.. dalam kadar nya lah.

Mata gue agak risih ahir-ahir ini karena banyak orang yang fikirannya termainset bahwa cantik itu bisa diperoleh dengan menggunakan alat riasan yang digunakan siapapun model yang elo suka. Gue ambil contoh satu: Dian Pelangi. So, kalau dia cantik dengan pensil alus, lipstick warna-warni dan eyeshadow yang tabrak warna, belum tentu juga itu juga bakal cantik kalau diaplikasikan dimula elo. Remember, mereka dandan agak lebay ya karena mau pemotretan. Mau jualan. Mau ada acara tertentu. Mereka nggak bakal juga dandan begitu buat sekedar pergi ke supermarket belu sayuran kan?

Got it?

Hahaha.

Sedikit pengalaman, banyak dandanan nggak match yang sering gue liat di kampus. Kampus loh ya.. dalam keadaan kita kuliah, dan nggak lagi ada acara resmi apapun. I don't got any reason why they look so heavy with they red lipstick, blonde hair, and brown eyebrow. Is that make lectures give they perfect score? I think no.

Ya.. maaf kalau banyak yang tersinggung (ya kali banyak yg baca ini kan ya..). FYI aja, artis pun kesekolah pake dandanan normal kok.

"Show your real beauty, not your mask beauty. Show your inner beauty with let them know what your in your brain, not what your cosmetic label.  - CF

ya.. cukup lah celoteh gue pagi ini. Selamat weekend!

because beauty is me and you too girls ;)










Rabu, 09 April 2014

Pejuang skripsi? Harus tahan di gantung setiap hari!

Hey ho knowledge fighter!
Ahir-ahir ini gue lagi suka pake kalimat itu sebagai kata ganti. Keren kan? hahaha

Anyway… seminggu bonus liburan hampir sampai limit. So.. Apa yg dihasilkan dari seminggu liburan ini?
*tik. Tik. Tik. Tok* Yeah. Moneeeeyyyy! Hahahaha
Semenjak terpesona sama #Vscocam yang Cuma bisa di pake produk yg label nya gambar buah digigit itu gue jadi punya tujuan”kenapa gue musti cari duit” lagi. Ternyata bergerak dengn tujuan jangka pendek itu 
lebih bikin semangat.

Anyway (lagi) gue bingung mau pake kata ganti apa untuk “pejuang skripsi”. Karena kemaren ada yang ngritik penggunaan disertation agaknya nggak pas. Gue kan belum mau ngambil gelar profesor -_-. Mungkin kedepannya pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar aja lah. So, we change from dissertation figter jadi pejuang skripsi.

Hm..

Atau.. pejuang tahun ahir? End year fighter?

Apa aja lah ya.. yang penting tujuan penggunaannya dapet. Kaya kita pake obat. Mau pake obat apa yg jelas tujuannya sehat. Tapi itu teori buat orang dengan kondisi tubuh normal. Jadi bisa pake golongan obat apa aja. Tapi beda buat yang dengan kondisi khusus *ehem* *like a sir*

Oke, hidup gue beberapa hari belakangan, sebagai seorang pejuang skripsi mulai ngebikin gue agak suka teriak-teriak atau senyum-senyum sendiri. Jangan artikan senyum ini totally fully deeply karean gue bahagia. Nay-Nay-Nay. Kadang gue senyum lebar untuk mengiklaskan bahwa perjuangan gue dihari itu “SIa-Sia”. *pasang back sound berhenti berharap – SO7*. Yeah.. semua pejuang skripsi pasti ngerasain hal itu. Dimana lo udah smenagat-semangat ngampus, udah pake baju rapi, sepatu baru, dan pastinya kelapangan hati yang lebih baru dari sebelumnya. Berangakt dari kos lo masing-masing, niat ke kampus buat ngurus apapun lah ya tentang si cantik yang bernama skripsi. Tapi sampai di kampus, semakin tinggi matahari, semakin tinggi juga ujian kesabaran diberikan tuhan sama elo. Yang pada ahirnya, saat matahari beranjak turun, semakin turun juga posisi kepala elo (I mean nunduk) karena kecapean nunggu tanpa hasil. Dan elu dengan terpaksa keluar dari gedung yang namanya fakultas sambil tersenyum alakadarnya. Yeah. Bukan karena senang, tapi lebih karena senyum akan membuat suasana hati lebih baik. Menurut gue sih gitu. Daripada lo keluar dari sana mencak-mencak. Udah muka lo berubah serem, temen-temen lo pada takut, muka lo juga bakal lebih cepat keriput. Ih.. Males deh.

Kesabaran gue di uji kemaren ini dalam 240 jam. 240 jam yang.. ya ampun.. bikin deg-deg ser. Ternyata digantung itu nggak enak. Kaya yang pernah gue ceritain di pos-post gue sebelumnya masalah gantung=gak enak, kayanya selama pengerjaan skripsi ini gue harus rela digantung sana sini. Udah berasa jemuran basah yang nggak dapat tempat ngejemur karena jemuran kain penuh. Surat permohonan pengambilan data awal yang kata nya bisa di urus barang 3 harian, tembus 10 hari di gue. Kata uni-uni fakultasnya surat gue nyangukut di meja ibuk wakil dekan I yang lagi sibuk kesana kemari. OMG. Selama 10 har itu hampir tiap hari gue masuk ke fakultas dengan semangat penuh harap, dan keluar dari sana melengos kaya orang gagal nikah. 

Tapi, semua berubah ketika siang itu.. 
Negara api datang menyerang.. Eh, sorry. Maksut gue, semua berubah waktu siang itu gue datang ke fakultas, dan uni-uni yang nampaknya sudah bosan liat muka gue itu tanpa ba-bi-bu waktu gue memunculkan diri di ujung kaca bolongan loket nya, dia menyodorkan selembar kertas yang sudah gue nanti-nanti sekian lama. Bagaikan nemu segelas air di padang pasir,mata gue berbinar-binar nerima selembar kertas yang saat itu jadi kertas paling berharga buat gue.

Gue kira proses penggantungan gue berahir. Sayangnya.. itu baru permulaan.

Besoknya gue cabut ke Rumah Sakit tujuan penelitian gue. Ngurus perizinan selanjutnya. Hari pertama sih santai aja. Gue dapet kejelasan dari si bapak yang sangat lah baik hati, ramah, dan tidak sombong. Gue Cuma makan waktu barang 30 menit di RS. “ambil suratnya besok ya sama uni yang disebelah..” Gue meninggalkan senyum termanis gue waktu ninggalin gedung buat administrasi RS pagi (menjelang siang) itu. BEsoknya gue balik kesana, lagi-dan lagi dengan penuh harap. Duduk nunggu giliran masuk ruangan-sudah masuk ruangan disuruh nunggu diluar, ngantri- guling guling bosan – ahirnya gue  iklan iklan di akun jualan – masih belum ada panggilan – gue  mulai bosan – gue buka bahan ujian – gue jadi lapar -  masih belum ada panggilan. OMG.

90 menit kemudian si ibuk keluar ruangan. “Maaf dek, ibuk yang bikin suratnya ada rapat. Balik lagi aja jam setengah 2 nanti ya..”

Gue lemes.

Ahirnya gue balik ke kosan dan tidur. Selain ngantuk karna juga nggak mood. SEbelumnya buat menghibur hati, gue mengisi perut gue dengan jajanan didepan SD yg gue lewatin pas jalan pulang. Nggak mahal-mahal kalau mau ngajakin gue wisata kuliner, cukup bawa gue ke depan SD yang banyak penjual jajanan dan gue akan berwisata dengan bahagia. Hahahhaa.

Sebangun gue tidur dengan mood yang (mungkin) lebih baik, gue kembali kesana. Dengan tiket parkir yang gue jadikan tiket terusan untuk seharan (hahaha 2000 itu banyak mamen!) gue balik ke gedung BAKORDIK RS XXXX itu. Gue dateng, ruangan nya sepi. Cuma ada 2 ibu-ibu yang lagi makan nasi padang. Gue sempet ngapus iler dulu karena jujur, bau nasi padang nya bikin laper. “ee.. ibuk nya masih rapat dek.. besok kamis aja kesini lagi ya”. Nggak usah gue jelasin kalian udah tau ekpresi gue.
Dan sekarang gue musti alihkan perhatian dulu dari surat menyurat periznan ke bahan ujian besok. Farmasi Rumah Sakit yang tebel bukunya nya lumayan buat alas tidur -_-


OMG



Salam semangat dari orang yg susah mengumpulkan semangat.
Semangat!

Sabtu, 29 Maret 2014

malmingnya ca-apoteker. antara teori vs praktek.

good morning.
ya.. walau udah telat banget ngucapin selamat pagi, tapi ini masih terhitung pagi lah ya? buktinya perut gue masih mules-mules. Oke abaikan itu.

Setelah mengalami weekend morning yang asli bapuk banget. Gue bosan sebosan-bosannya dan nggak tau mau ngapain dan nggak mood juga buat ngapa-ngapain. Gw sampe gak bisa ngedefinisiin juga itu nama situasi dan kondisinya apaan. Tapi, mood gue up lagi di sore hari. Setelah gue telusuri kebelakang kayanya gue cuma suntuk di rumah -_____-

so, sesuai janji, gue sore kemaren nemenin temen gue ngejagai apotik. sudah dari lama gue pengen nemenin dia disana, tapi nggak sempet-sempet. Banyak haral lintang menghadang. Tapi, yg penting sore itu gue udh disana.

Duduk dibalik etalasi berbagai produk, gue deg-deg sendiri kalau udah ada pembeli. Padahal yg ngelayanin kan temen gue itu. Gue cuma kebagian sebagai pelengkap etalase. Pajangan doang. hahahah. Nggak sampe 1 jam pertama gue disana, kami disuguhi tontonan yang lucunya nggak ngalahin OVJ. Entah lah menurut orang lain itu lucu apa enggak. Yang jelas menurut gue dan temen gue hal itu cukup lucu. Entah mungkin lucu meter kami yang ambang batas nya rendah. jadinya untuk hal-hal nggak lucu pun kami bisa ketawa puas. Entahlah..

ceritanya ada dua abang-abang yang tampilan awalnya enak lah diliat. Bersi dan rapi. Tapi lama-lama diliat malah bikin temen gue ngejepitin kepalanyas sendiri dilemari penyimpanan obat sakin kejang-kejangnya ngeliat tingkah dua cowok itu. Dan adegan jepitin kepala itu benar adanya tanpa rekayasa dan bumbu apapun. She really do that! Gue nggak mau ngejelasin detail juga apa yg dilakukan itu cowok. Tapi sedikit clue: gue bingung mau pake he atau she dalam kata ganti menunjukan dua 'orang' itu. Enaugh.

lepas kisah dua cowok tadi gue lebih milih ngobrak-abrik resep yang ada. Belajar baca tulisan tangan dokter yang sebenernya nggak beda jauh sama tulisan pesanan alat elektronik di bon yang sering gue coba baca di rumah oma. Kalau disini tulsiannya paracetamol, disana tulisannya parabola. hahahha





Kadang kerja dengan orang lain ini agak bikin kita bingung menentukan sikap.Terutma gue. sekedar contoh, dulu gue sempet mau ngejalanin sebuah bisnis sama salah satu senior gue di SMA dulu, tapi ahirnya gue mundur teratur karena ngerasa banget-banget nggak cocok. Finally gue memilih buat ngediriin kerajaan sendiri walau harus mulai dari bikin batu bata. Ternyata gue bukan tipe yg suka diperntah.

so, ngeliat keadaan di apotek secara nyata, gue yang biasa belajar teori di kampus ini agak mengelus dada, mencoba sabar. Beberapa hal yang gue pelajari 'untuk tidak' di kampus malah dilakukan secara nyata. Lantas kemana sumpah dulu yg di ucapin? Ya// walau mungking yg dilakukan nggak melanggar sumpah juga sih.. tapi cuma sedikit modifikasi dari teori yang selama ini dipelajarin. Modifikasi yang.. entah lah ya..

Disaat yang sama gue juga diskusi sama salah satu temen gue yg lg stay di RS. Dia bilang di RS rekamedik berserakan di meja perawat. Padahal dikepalanya ada tulisan 'Rahasia'. Kalau ini sinetron, mungkin si antagonis sudah dengan mudah mencampurkan sesuatu yang 'aneh' didalam data medis pasein, dan gotcha! tujuan tercapai dan dia nggak kena tuduhan apapun. Oke. sorry, kebanyakan nnton sinetron gue -_-. Belum lagi lemari-lemari obat dan alat-alat lainnya yang nggak di kunci, lantas ditinggal tidur perawatnya dengan alasan "di lantai ini pasiennya nggak gawat-gawat amat. Jadi bisa ditinggal tidur" What the fork daaaaahh!

Tapi, ya itu tadi.. kebanyakan praktek tidak sesuai dengan teori yang ada. Terlepas dari pasti ada alasan dibalik pelaksanaan yang agak melenceng itu. Bisa alasan yang menguntungkan pasien atau alasan menguntungkan si pemilik sarana. Entah. Entah siapa yang patut disalahkan. Salah bunda mengandung? atau salah dosen mengandung?

Tapi, gimanapun juga, ibarat kucing dicemplungin kedalam kolam, gimanapun gayanya, gimanapun caranya, dia akan tetap berenang, berusaha mencapai tepian.




Rabu, 12 Maret 2014

The (Disertatiion) game is on! - story from disestation fighter

Good morning! Bubur ayam disebelah gue tinggal sedikit lagi waktu laptop ini sudah bisa digunain buat bercerita. Awalnya sih gue mau nulis pake smartphone gue aja, tapi ternyata sakin smartnya dia dan sakin nggak sabarnya gue, gue mutusin ngebuka laptop juga pada ahirnya.

Perjalanan menjadi seorang disertation fighter gue sudah memulai babak baru (cie..). Terhitung dari kemaren, waktu pengumuman nama pembimbing. Dan.. nggak semua yang lo rencanain dengan matang itu akan terlaksana sesuai dengan apa mau lo. Tuhan lebih tau mana yang terbaik buat umatnya toh? Dan, disinilah gue sekarang, duduk sarapan di salah satu warung makan, sambil menimbang-nimbang antara dua pilihan yang cukup berat (selain badan yang juga berat).

Setelah keluar nama pembimbing kemaren, gue, yang sudah merencanakan banyak hal sebelumnya. Sudah berusaha semaksimal yang gue bisa. Gue, berbekal dengan form tugas ahir yang sempet gue post di akun instagram gue, yang waktu itu sudah lengkap dengan tandatangan ca-pembimbing 1 dan dokter ca-pembimbing 2.  Segenap hati sepenuh jiwa, dengan berbinar binar ngeletakkin map pink yang nggak unyu itu diatas tumpukan map yang senada.

Dan,ternyata.. tuhan berkehendak lain. Hahahaha. Bukan itu yang terbaik buat gue.
Ibuk cantik. Yap… si ibuk cantik ini yang ternyata dijodohkan tuhan buat gue, membimbing gue untuk menyelesaikan script sweet gue -yang awalnya mau gue kasih nama rock n roll dissertation-. Berhubung ibuk gue cantik, nggak mungkin gue kasih judul rock n roll kan? Here. Script sweet.

“Bahkan, sepasang hati yang sudah duduk didepan penghulupun bisa batal mengikrar kalau memang tuhan berkehendak” – fristy's gulana quote

Ya.. Gue dalam gundah gulana. Galau kronis!
Setelah dipastikan gue bakal di bimbing dalam proses ahir menyelesaikan jenjang S1 dengan ibuk cantik, yang gue galaukan selanjutnya adalah gue mau kemana. Apa yang harus gue pilih. Kesampingkan dulu masalah judul skripsi. Gue musti tentuin pintu mana yang musti gue ketuk. Pintu yangdibalik masing-masingnya punya kisah yang bakal gue jalani kedepannya.
Keenakan ngetik, gue ampe lupa makan bubur ayam disebalh laptop gue yang ternyata udah dingin. –“

New team of andalas cancer reset center or use white uniform and be clinical researcher
*hening* *baru sadar, kalau keduanya tetep pake seragam putih.

Dari kemaren gue udah mendatangi banyak pihak untuk minta peritmbangan. Mengunjungi dari satu kamar kos ke kamarkos yang lain. Nyari penerahan. Mungkin sebaiknya gue juga minta pendapat penjaga toko lampu biar tambah terang.

Satu sisi gue berminat juga buat mencoba  kerja di laboratorium dengan berbagai alat-alat yangbiasanya selalu bikin gue terpesona sekaligus bingung. Apalagi, kerja di labor, dengan status ngerjain proyek dosen. Kalau proyeknya kelar nama gue juga bakal tercantum disana sebagai peneliti muda. Ya, walau  nggak ngerjain proyek dosenpun gue tetep juga bakal jadi peneliti muda juga sih. Sisi lain nya, gue masih juga penasaran gimana rasanya berdiri menghadapi pasien dengan seragam putih kebesaran seorang apoteker muda, walau skarang statusnya masih sebagai calon apoteker. Ngadepin pasien-pasien, walau sekarnag masih sekedar ngewawancarain. Ketemu dengan bebagai praktisi kesehatan lain. Ngecengin dokter koas, ya.. semacam itu lah.

Dan, dari dua nara sember yang gue temui, serta satu orang penengah yang gue satronin juga kamar kos nya dan sebuah pintu kamar yang jadi pelepas emosi, dua sense beda gue rasakan. Perasaan yang.. susah dijelaskan dengan kata-kata. Kalau kata Justin bieber itu like butterfly in my stomach didn’t stop stop.. Ngeri banget dah masa ada kupu-kupu dalem perut.

Hidup itu pilihan.

Kalau katnaya Sherlock itu,  the game is on. Permainan sudah di mulai. Dan gue harus menentukan tempat mana yang akan jadi arena bertarung gue selanjutnya. Tempat yang pastinya tidak boleh ngebuat gue kalah. Tempat yang harus membuat gue semakin dan semakin penasaran. Bukan semakin dan semakin stuck, terdiam. Tempat yang bakal gue capai high score nya (oke, bantu gue aminkan yang ini. Aamiin). Dan.. tempatnya adalah....



“Stop think that you can’t. Everything, if it is still in your passion, you will pass it well” - wise fristy









Minggu, 02 Maret 2014




Saya harus menampar diri saya sendiri. Walau sakit. Tapi, sakitnya tamparan itu hanya sementara.
Saya harus menampar diri saya sendiri. Sebagai hukuman karna telah menyakiti diri sendiri.
Saya haru smenampar diri saya sendri.
Tamparan yang bukan oleh orang lain.
 SAYA HARUS MENAMPAR DIRI SAYA SENDIRI!







Sabtu, 01 Maret 2014

Peneliti permenkaret


Hey-Ho..
Entah karena yg diteliti itu permenkaret, jadinya segala serba ngaret. Hahahaha
Waktu boleh tertarik-tarik sampe sepanjang karet, asal semangat nggak kendor kaya karet. *apasih*
But, setelah perjalanan itung-itung,diskusi-diskusi, pesan-pesan bahan (bahan-bahan mahal yg sampe musti di impor dari cina) ahirnya geng peneliti permenkaret ini berhasil memulai langkah juga.

Hampir satu bulan lebih nganggur, ahirnya hari ini gue masuk lab ceritanya bersama temen-temen gue yang udah duluan merintis karir jadi peneliti. Finally gue pake jas labor bukan buat praktikum matakuliah. Tapi buat meneliti mameennn.

Dan, ini rasanya jadi mahasiswa tahun ahir. Mahasiswa yang weekend nya tetep ngampus, tapi bukan buat rapat ini itu lagi. Tapi buat berkutat dengan urusan masadepan yang lumayan menyita banyak oksigen untuk bernafas.

Singkat cerita gue berhasil bawa bahan-bahan yang ditumpuk di kontrakan menuju labor. Ternyata bahannya lumayan banyak. Berhubung gue dikenal bukan sebagai anak labor, beberapa penghuni tetap labor lumayan kaget waktu liat muka gue. Hahahaha.


Setelah cari-mencari tempat nongkrong yang cocok, ahirnya mendaratlah kami semua di labor kimia bahan alam, di lantai 2. Gue rada parno waktu temen-temen gue pada ngajak kerja di sana. Oke. Tuhan. Tolong.
Alhamdulillah sepanjang gue disana tadi situasi aman terkendali. Termasuk gue yang juga memaksakan situasi aman terkendali. whatever.

Gue baru ngerasain lagi kalau fokus terhadap sesuatu bikin reseptor gue lupa menyampaikan impuls lapar ke otak. Gue takjub sendiri sekitar jam 3 sore perut gue belum bunyi-bunyi padahal belum diisi makanan normal sedari pagi. I proud of you tummy. Sering-sering aja ya.. biar gue rada kurusan. Mungkin ini yang bikin banyak orang bilang kalau penelitian bikin mereka lebih kurus. Semuoga itu juga berlaku buat gue.

Panjang cerita, setelah timbang-timbang poly iso butilen, CaCO3, sorbitol, soya oil, griserin, sama parafin wax, campur-campur bahan di dalem penangas air, didapatlah hasil yang menakjubkan. Percobaan pertama kami gagal. -____________________________________-

Gue kira ngebuat permenkaret bakal semudah ngebuat onde-onde. Ternyata... 

Massa adonan kami bukannya jadi permen karet, malah jadi mirip bubur sumsum. Itupun masih bagusan bentuk bubur sumsum dibanding massa adona permenkaret kami. Hoalah...

Oke, nothing to loose. Setidaknya walau percobaan dilabor gue tadi nggak begitu berhasil, tapi percobaan gue di bidang satu lagi kayanya cukup berhasil. 

Dapet job dari ayah lagi. Kali ini gue niat nya mau bikin vector line mukanya bapak gubernur kota gue, yaitu pak HBA. Belum fix selesai sih, tapi sejauh ngerjainnya gue lumayan senyum-senyum sendiri, girang. hahahaha. Pisau tumpul aja seiring diasah bisa jadi tajem. Gue juga pasti makin diasah juga makin bisa. Pokoknya targetan harus bisa menyamai tingkatan orang itu. hahay!


okay, good night! lemme have qualitytime with my lovely job~

Senin, 24 Februari 2014

senorkeling konvensional

Kemaren ini gue sama temen-temen SMA gue ceritanya pergi jalan-jalan. Secara beberapa waktu belakangan jiwa traveling gue mendadak naik, gue oke-in planning nyebrang pulau di weekend ini, mengorbankan rencana awal gue buat tidur seharian. *ups*

Sebenernya gue excted banget sedari temen gue si pencetus ngomongin masalah ide jalan-jalannya ini di jejarsos tetangga, tapi waktu itu gue Cuma takut timming gue nggak pas. Mungkin ini yang namanya jodoh ya, minggu kemaren jadwal gue bener-bener free dari kegiatan apapun. Hehehehe

Gue Cuma nyiapin budget 100.000 di dompet. Apapun yang terjadi hidup gue bermodalkan dari sini.

Perjalanan dimulai dari jam 7:30 gue keluar kosan, bediri ditepi jalan barang 2 menit dan dapet angkot (Rp. 2000). Gue sama temen gue sengaja turun di depan pasar buat ngisi perbekalan demi kedamaian perut selama perjalanan. (Air Minum Rp. 3000). Awalnya nggak berniat buat sarapan, sampai ahirnya kami tergoda dengan sambal tempe dari ibuk-ibuk penjual nasi uduk (Rp. 5000). Sarapan kilat kami selesai nggak sampe 10 menit. 

Ternyata temen-temen gue, rombongan pergi kali ini udah pada sampe. Kayanya cuma gue sama temen gue ini yang bawaannya tas ransel penuh. Isi rombongan yang lain tas nya pada kempes-kempes. Malah ada temen gue yang lain tampilannya udah kaya mau ke mall, bukan mau ke patai. -___-"

Tiket kereta Padang-Pariaman: Rp/ 26000 (PP)



Pertama gue naik gerbong kereta, gue rada terdiam. Baru sadar ternyata gue dapet gerbong baru yang wow... dingin -_- untung idung gue udah diobatin dari penyakit kekonvensionalannya yang gak bisa kena dingin AC. Setidaknya gue bisa duduk tenang sambil ketawa cekikikan cerita apapun sama yang lain tanpa perlu repot ngebuangin isi idung yang produksinya bakal gilagilaan kaya dulu. 

next, makan siang Rp. 20000, nyebrang ke pulau Rp. 25000 (PP)

 Terahir gue naik perahu nyebrang sungai itu waktu gue masih kecil dan sehabis nyeberang gue muntah-muntah. Gegara pengalaman ini gue rada gimana gitu.dan pengalaman pertama gue naik speedboad kali ini rasanya... hahahhaa.. gimana ya... antara nagih dan takut sebenernya, berasa dalem kaleng terombang-ambing dilautan. Gue takut ditengah sana mendadak mesinnya mogok. Kalo mogok gue gak bisa bantu ngedorong.

Tapi rasad deg-deg ser gue naik speedbod terobati begitu sampai di tepi pantai di pulau angsoduo. 
sumpah gue baru pertama ini liat pantai yang biasa nya cuma gue liat di kalender doang.
Pasirnya putiiihhhhhhhh!
Pastinya ada lagi pantai yang pasirnya lebih putih dari ini, tapi, untuk kadar anak kampung kaya gue yang taunya rumput ilalang sama mall, pasir di pulau ini sangat lah wow!





Baru nginjakin kaki gue udah diteriakin sama temen gue yang nyerbrang trip pertama, teriakin buat cepet join nyebur sama mereka. Nggak pake ba-bi-bu abis ganti baju gue yang biasanya paling males mandi-mandi di tempat yang sanitasinya agak sesuatu, kali ini mengecualikan apapun.  Ada atau enggak tempat ganti baju, salty water i'm comiingg~!

dan kali ini gue buktikan dengan sangat bahwa rasa air laut itu asin.

Gue kira awalnya gue jalan diatas batu-batu pantai, ternyata gue jalan diatas karang hidup. OMG. maaf, gue sudah mematahkan banyak karang. Dan, ini juga pertama kali gue megang yang namanya karang asli yang warna nya masih kehijauang. Rada geli sih sebenenrya. --"

Kali ini gue nyobain snorkling, meski cuma sekedar snorkling konvensional. Bermodalkan kacamata snorkling punya temen gue, kita ber 6 ganti-gantian ngeliat dasar air demi ngedapetin pemandangan langsung ikan berenag di air laut. Rasanya berhasil liat ikan lari kalang kabut itu sebuah keberhasilan yang nggak ternilai. hahahaha.  Kata temen-temen gue ada ikan yang warna biru, tapi gue udah cukup bersyukur ahirnya setelah tunggang-tunggit bisa juga liat ikan berenag dalem sana meski ikannya warna item. hahahahah

Start from to day gue bakaln mencintai yang namanya snorkling!

Berhibung waktu kami terbatas, karna jam 4 musti naik kereta pulang, nggak lama kemudian kita semua pada naik dari air, ngelanjutin kegiatan di  roundown acara: ngelilingin pulau. Dan, habis naik dari air gue baru ngerasa pigmentasi tangan gue meningkat tajam. Anehnya, bukannya jejeritan kaya biasanya, gue malah senyum sendiri. Pantesan salah satu senior gue tetep betah sepedaan keliling sumatera dan nyisain warna kelam di kulitnya, berubah warna nggak masalah, asal kepuasan dari melakukan suatu hobi didapat.


total pengeluaran: Rp 81000
sisa di dompet: Rp 2000.

pertanyaan: kemana sisanya? hahahhaha






ps: siapapun, ajakin gue snorkling beneran dong!





Jumat, 14 Februari 2014

Up side down. Other story from disertation fighter.

Si pejuang tahun ahir juga manusia. Kaya cerita gue sebelumnya bahwa dokter juga manusia, kali ini, gue tekankan gue juga manusia biasa. Sometime up mood, and now so down.

Gue sendiri enggak punya pihak ketiga untuk gue salahkan atas kacaunya mood gue hari ini. Awalnya gue kira mbak-mbak koas yang ngejutekin gue di RS tadilah sumber hancurnya mood gue, tapi.. setelah gue fikir-fikir lagi nggak salah dia juga sih.. Bisa aja kan justru sebenernya dia yang mood nya terganggu karna pertanyaan singkat gue. Maybe. Yang jelas dia nggak bisa gue salahin.

Kata seorang teman gue so positive thinking. hahahhaa. Yey or Nay?
Thanks for person tht me be like this. So positive. Yeah, Still you. Although you s**k. (uups..)

Awalnya gue sudah bersemangat turun dari bukit tempat gue bertapa menuntut ilmu. Rela bolos dari kuliah yang jam nya agak takapik gitu ya. Pokoknya gue berhasil mendarat setelah 30 menit perjalanan dengan mobil dinas gue (aka. Angkot). Masih semangat walau kepala agak sakit dampak perut yang kosong, gue kali ini gak pake nyasar ke bangsal THT. Perjuangan hari ke-2 buat nemuin dr. SR. yang sampai sekarang gue gak ada bayangan orangnya bakal gimana.

Kembali gue disuguhi pipa-pipa got RS yang berasap. Asli gue penasaran, apa sih yang dilakuin sampe pipa-pipa got nya ngeluarin asap tebel banget? Asap-asap ini lumayan bikin gue ngeri dan parno.

Dengan dresscode gembel gue ngeberaniin diri masuk ke THT rencananya mau nanya dulu di meja perawat. Tapi sayangnya.. nyali gue ciut mendadak ngeliat lebih dari 8 orang dengan jas putih disana. Bercampur baur. Ada wajah-wajah seger 20an, ada juga wajah-wajah 40an. Dan gue, bertolak belakang. Gue dengan kaos item kucel dan juga muka kucel. Gue mendadak lemes. Putar arah 180 derajat. Balik kanan. Ya tuhaaann.. Apa seragam putih selalu bikin pemakainya terlihat songong? entah lah.. Tapi, nanti gue juga bakal pake seragam putih. Tuhan.. Jangan bikin gue songong denga seragam itu.

Seragam putih itu dimata gue hanya di pakai oleh orang-orang dengan kepala yang penuh dengan ilmu. Perjuangan keras buat bisa pakai seragam itu. Terlepas dari perjuangan keras tiap orang itu kadarnya beda-beda. Tapi, itu tetap penuh tetes peluh.

Disini gue ngerasa banget betapa pentingnya sebuah penampilan. Walau sebenarnya isi kepala kita sama aja, tapi penampilan yang terlihat lebih, akan memunculkan ekspektasi lebih pula bagi yang ngeliat.

Ternyata beban berat juga buat pake seragam putih itu ya. Pertanggungjawaban yang.. wow.
Lantas, apa gue udah pantes buat pake itu? hahahaha. kok gue jadi sanksi sendiri -_-

Apa sih beda gue sama mereka? sampai-samapai gue ciut langkah begitu ngeliat mereka bergerombol didalam?
Satuhal yang gue lupa dan besok-besok harus gue inget se-inget-ingetnya. Gue sama dengan mereka.  Gue sama dengan mereka. Sama-sama kalo laper makan nasi dan kalau haus ya minum air. Kita sama-sama menuntut ilmu kesehatan. Sama-sama dalam proses belajar, walau mereka sudah pernah pake toga , sedang gue sedang berusaha untuk.

Lantas, apa bedanya si pemakai seragam putih dengan gue yang nggak pake serangam?

Kenapa alam seolah mengatakan kita beda kasta?

Setau gue, kita semua sama derajatnya di mata hukum dan pemerintahan. *eh* Maksud gue kita semua sama dimata tuhan.

Lah, kalo gitu kenapa gue mindeeerr???!!!!!!

-_____-

Saat nulis ini baru gue sadari apa yang salah. Gue masih merasa belum cukup bekal untuk menegakkan kepala didepan orang-orang yang ber-image-hebat dimata semua orang. Gue sendiri belum bisa mengangkat kepala dengan profesi sendiri. Hallo? bukannya teori angkat kepala ini udah diajarkan dari dahulu kala sama dosen-dosen gue. Kemana semangat angkat kepala yang dulu menggebu-gebu?

Saya dan anda sama. Kita parner dalam meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat banyak. Saya, anda, dan masyarakat itu bersama. Nggak ada masyarakat, saya dan anda bukan siaapa-siapa.
Lalu, apa yang membuat dagu kita terangkat?







Jumat, 07 Februari 2014

tour de M. Jamil.

Sebuah hasil yang baik pastinya butuh proses dan pengorbanan yang baik dan biasa bakalan berat (banget)
Oke, dipagi jumat yang insyaAllah barokah ini gue keluar rumah dengan niat mulia dan tulus setelah beberapa hari mengahiri jatah liburan yang sebenernya masih ada seminggu lagi.  Oke, ini semua demi si skripsi yang harus ruar biasa.

Bener kata orang, masalah skripsi nggak bakalan semudah lo mesen makanan di McD drive thru, tinggal nongkrong di loketnya, kasi duit, dan pesanan lo datang dalam keadaan hangat dalam sebuah kantong kertas yang ramah lingkungan.

Jalan menuju skripsi ini banyak bebatuan, kerikil, bata, sampai batako. Lengkap.

Sebenernya gue belum punya pembimbing pasti. Gue masih di gantung-gantung. Bener kata orang, digantung itu enggak enak. Maaf ya buat yang pernah gue gantung. Gue nggak maksud apa-apa *eh *Salah fokus*

Tapi, ada kalanya sesuatu yang gantung itu butuh perjuangan agar dapat status resmi. *eaa*

Jangan salah tanggap. Ini bukan soal hati. Ini soal masadepan. Walau hati juga terkait masadepan, tapi yang ini bukan terkait dengan itu. Lama-lama ngobrolin hati gue bisa salah fokus. Apalagi kemaren abis ngobrol sama itu, uih.. bisa runtuh lagi tembok gue. oke. pindah cerita yaa... 

Ehem.. *dehem serius*
Bermodal petuah dari senior gue yaitu “dokternya ada di bangsal bedah. Temuin aja pagi-pagi” tanpa ada embel-embel apapun lagi gue memberanikan diri masuk ke gedung besar RS M. Jamil demi menemui sang dokter yang kalo kalo entar bisa jadi pembimbing skripsi gue.

Satuhal yang perlu lo camkan baik-baik. Nyari ruangan di RS, apalagi RS umum begini nggak semudah nyari KFC didalam Mall. CATET! Gue awalnya mikir “ah.. gampang.. sampe sana tinggal nanya sama resepsionis dan ketemulah dimana si bangsal bedah ini” dan kenyataannya udah nanyapun gue sama resepsionis, gue tetep nyasar mameen. Ternyata nggak semua perkataan resepsionis itu benar. Atau emang resepsionis di IGD suka menjerumuskan? Atau guenya yang salah menerjemahkan kata si embak-embak? Entahlah.. gue nggak ngeti juga. Pokoknya dengan bantuan seorang ibu-ibu petugas di salah satu bangsal yang kalau gak salah bangsal syaraf, gue ahirnya sampai ke tujuan gue yang ternyata di lantai dasar (gue saat itu ada di lantai 1)

Setidaknya, ahirnya gue bisa berdiri dengan mata berbinar begitu ngeliat tulisan “Bangsal Bedah” gede didepan sebuah pintu kaca.
Masuk kedalem sana, setelah ngelewatin terali besi yang decitannya lumayan mirip sama di film horror, gue dengan langkah yakin perlahan ngedeket ke meja tinggi yang dibelakangnya banyak perawat-perawat. Gue heran begitu gue dateng mereka pada kaget, padahal sebelumnya gue ngelewatin terali besi yang bunyinya menurut gue nggak pula kecil. Mungkin pendengaran mereka semua sedang terganggu. Nanya-nanya singkat sama si perawat ahirnya gue dapet kesimpulan: mereka bahkan gak tau siapa dokter yang gue cari. PUEALIS DEH. GUE KIRA PETUALANGAN GUE SUDAH USAI. TERNYATA BELOOMMM -______________-

Besok-besok gue harus bawa Peta Dora.


Mau gak mau walau barusan gue nggak juga dapat jalan yang benar, gue tetep kembali mendatangi embak resepsionis IGD. Semoga kali ini infonya bener. Gue disuruh ke gedung sebelah. Lanjut jalan, keadaan gedung sebelah beda jauh sama gedung sebelumnya. Gedung sebelumnya itu lebih mirip rumah sakit konvensional yang buat nambah-nambah dana dipake buat shooting film suster ngesot. Sedang gedung barunya, oke, gue lumayan terbelalak. Mirip-mirip lah sama gedung rumah sakit di serial korea yang gue tonton, Good Doctor. Oke, gue nonton drama korea, buat Good Doctor tolong kecualikan. Gue nonton itu sekalian buat belajar alat-alat kesehatan, secara semester kemaren gue ambil matakuliah alat kesehatan. Oke? Tolong terima alasan gue. Please.. Believe me.. *mata berkaca-kaca

Setelah tanya sana sini, ahirnya gue sampai ke tempat yang benar. Uni-uni di meja perawatnya lumayan welcome. "O.. dokter DK.. sebentar ya saya liat dulu.." Si uni-uni langsung masang kacamata dan ngeliat kertas yang dilaminating, kayanya isinya jadwal dokter. "Pas, dokternya ada hari senin, rabu, jumat.." Gue langsung masang muka bahagia kaya onta kehausan  liat telaga ditengah gurun pasir. "Tapi bapak lagi rapat, sekitar jam 10 lah selesainya". Gue yang semula sumringah mendadak lesu. Oke... Semua butuh pengorbanan.. *backsound So7 Berhenti berharap*

Daripada melongo 2 jam disana, gue milih naik ke bukit tempat gue kuliah demi ngeliat seminar proposal temen gue. 

Di jam yang ditentukan gue kembali turun bukin menuju lembah bernaungnya rumah sakit tujuan gue. Gue udah kaya ninja hatori aja. Tapi gue lebih modren karna gue pake motor - meski minjem-

Perjuangan belum berahir. Kali ini gue ketemu perawat yang jutek iyuh iyuh. Pas gue dateng ternyata dokter DK lagi jamnya praktek. Gue enggak ada di urutan mana-mana, gue dapet jatah ketemu dokter sehabis semua pasien yang gue juga gak tau jumlahnya berapa. 

suster jutek: "oo.. mahasiswa, tunggu aja sampai pasiennya abis" 
gue: "I..Iyah.." (sok tenang tapi dalem ati sumpah serapah)
\
untung gue sudah terlatih unutuk sabar. Gue ambil novel dari tas, senjata gue dalam keadaan kejepit kaya gini. Setiap satu halaman gue pindah fokus ngeliatin pintu ruangan dokter. Makin lama bukan satu halaman lagi, per paragraf yang gue baca gue pindah fokus. Buku-pintu-buku-pintu- sampe lebih dari 30 menit. Daaann.. jeng jeng jengggg...  waktu gue tibaaa..

gue pasang muka manis -kaya anak kucing yang sudah 3 hari dalem kardus nunggu seseorang mungut- didepan celah pintu ruangan dokter yang hampir kebuka full. Kayanya gue ada chemistry sama dokternya, pak dokter yang baik hati langsung ngekodein gue masuk, gue masuk baru si suster itu bilang ke dokter kalo ada gue -si mahasiswa- yang mau ketemu dokter. azzzzz!

hal penting masuk ke lingkungan baru: atitude.
Gue langsung salamin si bapak dokter yang baik hati. duduk manis, terus cerita apa perihal gue kesana. After cerita, feedback nya gue dicurhatin balik sama bapak dokternya. He still friendly like usually deh pokoknya. kalo gue nginget nya, berasa pengen ketawa sendiri. Dokter juga manusia. Praktisi kesehatan juga manusia. Kaya keluhan almh. dosen gue, bapak DK juga mengeluh masalah kebijakan jaminan kesehatan yang baru ini. "ya.. Saya harus lebih sayang sama badan saya kan.. Tapi, mau gimana juga pasien juga butuh.. makanya saya jadi mengorbankan mahasiswa.." kurang lebih gitu kata sibapak, solusi sementara. Kayanya bapak bakal bersyukur banget kalau dia dikasih waktu sehari sekitar 30 jam, supaya dia punya waktu buat istirahat.

Finally.. Judul ajuan gue disetujui, tapi gue butuh konsultasi lebih sama dokter yang lebih sesuai. Dan, sayangnya bapak dokter DK ini nggak bisa jadi pembimbing gue. Selain terkait waktu, juga terkait ilmu yang dipahaminya. Gue salah masuk lapak kayanya. Tapi, gak apa lah.. Setidaknya langkah gue bisa lebih maju lagi.

Kali pertamanya gue mengurusi hal yang berkaitan dengan banyak pihak dan itu sendiri. SENDIRI! woooow. Gue bisa kok ya.. Ayaahhh..! anak mu ini bisa koookk!!!! -__-"



hey hey, Semangat lah wahai pejuang tahun ahir!